Oleh: Aas Syafrudin (Kang As)
MELIHAT pergaulan anak-anak terutama remaja yang sangat mengkhawatirkan. Sehingga banyak orang tua akhirnya membujuk anak supaya mau masuk pesantren?
Ini hal yang sangat logis, karena anak bisa relatif terkontrol dalam lingkungan pergaulan yang baik. Dan bukan hanya itu, ada banyak keuntungan atau manfaat jika anak kita benar benar mau masuk di pondok pesantren.
Diantara manfaat tersebut yaitu pertama, anak akan jauh dari pergaulan bebas. Adanya sistem mondok (dikarantina) diharapkan dapat melindungi santri dari pergaulan tidak baik.
Kedua, anak dengan sendirinya akan melaksanakan shalat secara tertib tepat waktu dan berjamaah. Bukan hal yang mudah membiasakan shalat berjamaah kalau anak berada di rumah. Apalagi kalau sekolah tidak menaruh perhatian pada masalah shalat.
Di sekolah seringkali adzan sudah berkumandang tapi kegiatan belajar mengajar (KBM) masih berlangsung. Ketiga, dan ini yang tidak mungkin ada di rumah, anak yang di pondok akan belajar
memahami agama dengan lebih baik.
Karena langsung dari referensi terpercaya, literatur klasik karya para ulama dan setelah itu akan berusaha mempraktekkannya. Terutama dalam keseharian di pondok dengan bimbingan para asatidz dan kyai.
Ketika mempelajari literatur klasik yang sering dikenal sebagai kitab kuning, otomatis santri dengan sendirinya belajar bahasa arab. Di pondok modern bahkan bahasa arab dan inggris wajib digunakan dalam percakapan sehari-hari baik di kelas maupun di asrama (pondok).
Tentu saja skill ini sangat berguna dalam keperluan akademik maupun pergaulan internasional. Dua bahasa ini memungkinkan santri memiliki daya saing global.
Keempat, di pesantren biasanya peserta didik akan diasah supaya memiliki jiwa
kemandirian sekaligus kolaboratif, entrepreneurship plus kepemimpinan. Walaupun ini di setiap sekolah tentu diajarkan juga. Cuma di pesantren biasanya lebih intensif dengan teladan langsung 24 jam.
Sebenarnya masih banyak manfaat lain dari yang sudah disebutkan di atas. Namun dari ini saja sudah cukup kiranya menjadi alasan kuat mengapa orang tua harus memasukkan anaknya ke pesantren. Orang tua akan jauh lebih tenang, jika anak berada dilingkungan yang baik.
Namun demikian, bukan berarti anak harus ke pesantren sejak usia SD. Bagaimanapun, anak berhak mendapatkan belai kasih orang tua. Bahkan sudah selesai sekolah dasar pun kalau terlihat anak belum siap jangan sampai dipaksa, karena ini akan
berdampak buruk.
Sebagai langkah awal perencanaan untuk mengirim anak ke pesantren, orang tua bisa mengajak anaknya untuk melakukan kunjungan ke beberapa pesantren. Selain melihat sarana fisik dan lingkungan pesantren, kunjungan ini juga berguna untuk mengumpulkan informasi mengenai program apa saja yang diselenggarakan di pondok dan siapa saja para asatidz pembimbingnya.
Apakah pimpinan pondok tinggal di lingkungan pesantren atau diluar, ini pun harus dijadikan pertimbangan. Nah, ketika anak sudah mau selesai dari pendidikan sekolah dasar, sudah ada gambaran pesantren mana yang kira-kira akan dituju.
Untuk kemudahan dan untuk alasan psikologis supaya anak tidak merasa terkucil jauh patut dipertimbangkan untuk memprioritaskan pilihan pesantren yang dekat. Misalkan masih satu kota atau satu kabupaten. kalau berbeda kabupaten kira kira jarak tempuh tidak lebih dari 2
jam perjalanan.
Jangan tergiur dengan nama besar pesantren. Pertimbangkan keamanan
dan kenyamanan serta kemudahan berinteraksi dengan pihak pengelola pesantren. Termasuk terutama dengan pimpinannya. Jangan sampai memilih pesantren yang jauh dan mahal ternyata anaknya tidak betah, depresi dan lain lain.
Sedangkan orang tua juga tidak mudah untuk sering berkunjung karena alasan waktu tempuh yang jauh dan biaya yang
tidak sedikit. Oleh karena itu, pilihlah pesantren secara bijak. Apalagi kalau pesantren yang dekat pun kualitasnya ternyata sangat baik.
Ini terbukti dengan diraihnya berbagai penghargaan oleh para santri di berbagai bidang. Sebagai contoh di indramayu saat ini ada beberapa pesantren yang sangat bagus untuk dijadikan referensi untuk anak kita di jenjang SMP dan SMA.
Sebut saja misalnya, Pesantren Tahfidz Abdurrahman Basuri yang berlokasi di Jalan MT Haryono. Tepatnya di samping kantor Pengadilan Agama Sindang, cocok untuk anak yang bercita-cita ingin menjadi Hafidz Quran.
Masih di kecamatan sindang ada juga pesantren yang cukup lama, namanya Pesantren Urwatul Wutsqa, yang menyiapkan generasi pemikir
dan pemimpin di masa depan.
Berturut turut bisa kita sebut juga beberapa pesantren yang bisa kita nilai sebagai pesantren modern yang unggul di bidang bahasa seperti pesantren Al Mukminin di Lohbener, Al Ishlah dan As Sakienah di Tugu Kecamatan Sliyeg, Darul Maarif di Kaplongan, Pesantren Hidayatul Mubtadiin di Kecamatan Pasekan, Raudhatul Mutaalimin, Roudlotul Mubtadiin dan Darun Nahwi di Singaraja’
Miftahul Ulum di Kecamatan Terisi, ada
juga Pesantren Sains di Sukra namanya PSQ Al Abror. Ada begitu banyak Pesantren di Indramayu yang tidak bisa disebut satu persatu. Sedemikian banyak manfaat masuk pesantren dan banyak pula pesantren yang bertebaran di indramayu dengan berbagai keunggulan khasnya.
Namun ternyata tidak semua siswa
lulusan sekolah dasar (SD) tertarik untuk mendaftar di pesantren. Ada juga yang sudah diterima di pesantren bagus tapi tidak bisa tuntas sampai kelulusan, bahkan ada yang keluar sebelum tahun pertama berakhir.
Padahal tentu tidak sedikit biaya yang sudah dikeluarkan saat awal masuk. Oleh karena itu penting sekali orang tua memperhatikan kesiapan mental anak sebelum memasukkannya ke pondok pesantren. Karena kalau anak terlalu dipaksakan atau memaksakan diri akan berakibat kurang baik.
Tidak ada salahnya program ke pondok pesantren ditangguhkan sampai anak memasuki fase yang lebih siap yakni setelah penyelesaikan pendidikan di jenjang sekolah menengah pertama (SMP).
Tentu ada plus minusnya jika masuk pesantren di jenjang sekolah menengah atas sama halnya juga jika masuk dari jenjang SMP.
Jika masuk dari jenjang SMP tentu akan dapat pelajaran dan pembiasaan keagamaan di pesantren lebih awal. Selama tiga tahun ada banyak hafalan quran dan materi kitab kuning yang sudah dikuasai.
Cuma saat usia anak baru 12 tahun ada kemungkinan mental anak belum siap, dipisah dari kehangatan kasih sayang orang tua dan suasana keluarga yang masih sangat diperlukan, ditambah ada berbagai kekhawatiran karena potensi bully di lembaga pendidikan manapun selalu ada.
Kebalikannya, jika anak mulai masuk pesantren di jenjang SMA secara fisik dan mental sudah siap. Dalam perspektif pendidikan berbasis fitrah usia 15 atau 17 dikategorikan sudah akil baligh. Memang sewajarnya jika di saat sudah akil baligh ini, mulai mencari ilmu.
Atau pengalaman di luar rumah yakni di pondok pesantren. Kalau mau dan mampu bisa daftar pesantren yang agak jauh, lintas provinsi bahkan negara. Ada banyak pelajar
Indonesia yang menempuh pendidikan di jenjang sekolah menengah atas di Timur Tengah.
Seperti di Kairo Mesir atau di Eropa seperti di Madrasah Imam Hativ di Turki. Hanya saja tentu tidak bisa sekonyong konyong saat anak lulus smp bisa mulus langsung diterima di pesantren yang bagus berkualitas. Diperlukan persiapan yang matang sejak di jenjang Sekolah Menengah Pertama.
Bagi anak anak yang berencana mau masuk pesantren di jenjang SMA, atau anak anak yang pernah masuk pesantren tapi “kabur” pulang ke rumah dan tetap ingin mencoba lagi daftar pesantren saat SMA bahkan bercita cita masuk pondok yang full beasiswa seperti Imam Hativ (boarding School) yang ada di Turki, bisa mempersiapkan diri dengan mengikuti
program sekolah yang materi agama dan bahasanya lebih banyak.
Program Ini biasanya bisa didapatkan di sekolah terpadu atau full day school. Di Indramayu ada beberapa sekolah
full day yang program pendidikan agamanya cukup dominan. Sebut saja misalnya Sekolah Alam Indramayu, yang memiliki tagline pesantren tanpa pondok, yang berlokasi Jalan Gatot Subroto, belakang Polres Indramayu.
Di lembaga ini diselenggarakan program tahfidz quran dan di kelas 7 sd 9 pengajaran agamanya menggunakan literatur klasik (kitab kuning). Hal ini
sebagai bekal dasar jika nantinya masuk pesantren di jenjang SMA. Ada juga program bahasa internasional yang dipraktekkan setiap hari.
Selain itu, diberikan juga bimbingan
kewirausahaan dan kepemimpinan yang merupakan bekal fundamental saat memasuki usia dewasa.*** (la_ghair)


