PROSES MEMBUAT CIMPLO – Ibu-ibu di Indramayu sedang memproses pembuatan cimplo, Minggu (10/09/2023) siang. Foto : Satim/indramayunews.id
INDRAMAYU, indramayunews.id – Sudah berabad-abad, “cimplo” sejenis kue serabi yang cara membuatnya dengan alat cetak khusus produksi pabrikan.
Menjadi kue tradisi yang masih lestari hingga kini, lantaran cimplo diyakini oleh sebagian masyarakat sebagai kue “penolak bala” (penolak sial atau penolak apes).
Nyatanya, hingga menjelang akhir bulan September 2023 ini, di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat masih beredar kue cimplo yang dibagikan oleh warga kepada saudara, teman-temannya, atau orang yang dianggap spesial olehnya untuk mencicipi cimplo.
Bahkan indramayunews’id juga sering menjumpai di sejumlah perkantoran ada sajian cimplo. Kue cimplo ini tak sekadar kue biasa, ternyata mampu menembus sekat-sekat atau strata, karena diminati sejumlah kalangan.
Tak ada batasan status ekonomi atau kedudukan, cimplo dengan bentuknya sejenis apem yang pembuatannya nyaris serupa dengan kue serabi itu. Ternyata mampu mempersatukan semua kalangan bisa menikmatinya.
Cimplo yang warnanya putih itu terbuat dari tepung beras yang diaduk dengan “ragi”. Sehingga bisa mengembang dan dicetak. Setelah matang, dinikmati dengan air gula merah kental yang dicampur dengan parutan kelapa muda.
Rasanya yang khas, dan hanya ada di bulan “Bala” begitu kalender Jawa menyebutnya, dan dalam kalender nasional tertulis Sapar, kemudian dalam perhitungan kalender Islam berada dalam bulan Shafar.
Cimplo oleh sebagian kalangan, seolah menggambarkan warna bendera kebangsaan kita yakni “Merah Putih”. Cimplo yang berwarna putih karena terbuat dari tepung beras dan akan terasa nikmat jika dicelup dengan cairan gula merah yang bercampur parutan kelapa muda.
Namun yang agak sulit untuk membongkar bagaimana asal-usul atau sejarah cimplo, sampai sekarang terkesan masih simpang-siur, apalagi kalau menelusuri sejak abad berapa cimplo mulai menjadi tradisi masyarakat, khususnya di wilayah Kabupaten Indramayu.
Menurut cerita tutur, konon, tadisi membuat kue cimplo itu diyakini sebagai kue untuk “tolak bala” alias penolak apes dan kesialan dengan harapan kehidupan bagi pembuat dan keluarganya baik-baik saja. Tak hanya itu, dalam lingkuangannya pun diharapkan dalam kondisi yang baik pula.
Beberapa tokoh atau pemuka adat yang dikabarkan mengetahui sejarah tadisi kue cimplo, kini sudah tiada. Yang sering terdengar cerita tutur soal cimplo yang turun-temurun hingga kini.
Ki Rasya (65) misalnya, meski sering diundang sebagai orang yang memimpin ritual tradisi orang hajatan, tapi tidak tahu persis sejarah cimplo. Namun warga Desa Panyindangan Wetan, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu itu menuturkan, bahwa complo sebagai kue tradisi penolak bala.
“Saya tidak tahu kalau sejarah awalnya. Sejak jaman para wali menyebarkan ajaran Islam pun katanya sih sudah ada. Bahkan ada yang ngomong sejak jaman Hindu Budha kemungkinan sudah ada,” kata lelaki yang sehari-harinya sebagai petani itu, Minggu (10/09/2023) siang.
Kendati untuk membongkar sejarah awal tradisi pembuatan cimplo itu tidaklah mudah, namun terbukti sampai sekarang tradisi itu masih lestari.(Satim)***


