32 C
Indramayu
Selasa, 26 Mei 2026

Seruan Islah Menguat, Supendi Samian Ajak NU Kembali pada Dawuh Kyai Sepuh

INDRAMAYU, indramayunews.id – Seruan Islah dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU) kembali menguat seiring munculnya berbagai dinamika internal organisasi. Ketua STIDKI NU Indramayu, Supendi Samian, menegaskan bahwa Islah harus dipahami sebagai ikhtiar luhur untuk menjaga keutuhan jam’iyyah, bukan sebagai ancaman terhadap struktur organisasi.

Menurut Supendi, NU sejak awal berdiri merupakan jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yang lahir dari rahim pesantren dan dirawat dengan adab serta keikhlasan para muassis dan kyai sepuh. Karena itu, setiap dinamika internal seharusnya dikelola dalam bingkai musyawarah, kebijaksanaan, dan kepatuhan pada nilai-nilai pesantren.

“Islah bukan bentuk pembangkangan terhadap aturan organisasi, melainkan jalan etik dan spiritual untuk meluruskan arah jam’iyyah agar tetap berada pada khittah dan marwah NU,” ujar Supendi dalam keterangannya.

Ia menilai, dalam praktiknya Islah kerap menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian pihak yang memiliki kepentingan tertentu. Hal ini terjadi ketika legalitas struktural dan formalitas AD/ART ditempatkan di atas adab dan kebijaksanaan, sehingga berpotensi menjauhkan NU dari ruh pesantren dan dawuh para kyai sepuh.

“Jika aturan formal ditegakkan tanpa hikmah dan adab, maka yang terancam bukan hanya harmoni internal, tetapi juga kepercayaan warga NU serta keberlanjutan kultur pesantren yang menjadi jiwa jam’iyyah,” tegasnya.

Supendi mengingatkan bahwa para muassis NU telah memberikan teladan jelas dalam menyikapi perbedaan. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya adab dan keikhlasan sebagai fondasi persatuan, sementara KH. Wahab Chasbullah menegaskan bahwa NU didirikan untuk kemaslahatan umat, bukan kepentingan golongan atau pribadi.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh jajaran kepemimpinan dan warga NU di semua tingkatan untuk mengedepankan semangat Islah, menjaga ukhuwah nahdliyah, serta menempatkan kepentingan jam’iyyah di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

“AD/ART harus menjadi pedoman yang memperkuat persatuan, bukan alat pembenaran yang justru menimbulkan keretakan,” katanya.

Dengan kembali berpegang pada nilai-nilai luhur para muassis dan tradisi pesantren, Supendi berharap seluruh dinamika NU dapat diselesaikan secara bermartabat, penuh hikmah, dan berorientasi pada kemaslahatan umat, bangsa, dan negara. (SS)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

10,540FansSuka
1,787PengikutMengikuti
1,871PelangganBerlangganan

Latest Articles