KARANGAMPEL, indramayunews.id – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, tradisi membuat ketupat kembali menjadi pemandangan yang akrab di tengah masyarakat, khususnya di Desa Tanjungsari, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu. Ketupat tidak hanya sekadar hidangan khas Lebaran, tetapi juga menjadi simbol budaya yang sarat makna dan kebersamaan.
Proses pembuatan ketupat tradisional masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat. Beras berkualitas baik dicuci hingga bersih, kemudian dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa muda (janur). Beras diisi sekitar tiga perempat bagian, lalu disemat menggunakan lidi agar tidak terbuka saat direbus. Selanjutnya, ketupat direbus selama 3 hingga 4 jam hingga matang sempurna, padat, dan tahan lama.
Ketupat menjadi sajian yang hampir tidak pernah absen saat Lebaran. Biasanya, makanan berbahan dasar beras ini disajikan bersama menu khas seperti opor ayam, rendang, dan sambal goreng ati. Lebih dari sekadar makanan, ketupat menjadi bagian dari tradisi kebersamaan keluarga saat merayakan Idul Fitri.
Menjelang Lebaran, aktivitas masyarakat pun meningkat. Banyak warga berburu janur atau kulit ketupat di pasar maupun dari pedagang kaki lima. Tradisi memasak ketupat bersama keluarga masih terus dijaga sebagai bentuk pelestarian budaya turun-temurun.

Toko Masyarakat Supandi , menilai bahwa tradisi ketupat Lebaran tetap bertahan karena kuatnya memori kolektif dalam keluarga. Menurutnya, pengalaman masa kecil yang berkaitan dengan aroma, rasa, dan suasana Lebaran menjadikan ketupat sebagai sesuatu yang selalu dirindukan.
“Keluarga-keluarga ini memelihara ingatan kolektif, termasuk memori rasa dan aroma. Karena tidak dikonsumsi setiap hari, ketupat justru menjadi makanan yang dirindukan saat Lebaran,” ujarnya saat ditemui, Kamis (19/3/2026).
Sementara itu, Toip, salah satu warga Desa Tanjungsari yang masih memasak ketupat menggunakan kayu bakar, mengatakan bahwa ketupat sudah menjadi simbol yang identik dengan Lebaran.
“Kalau bicara Lebaran, pasti identik dengan ketupat. Itu sudah melekat di benak masyarakat,” ungkapnya.
Keberadaan ketupat dalam tradisi Lebaran tidak hanya mencerminkan kekayaan kuliner, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi. (Cahyono)


