Samsul Anwar Akademisi dan Pendamping UMKM
INDRAMAYU, indramayunews.id – Kondisi ekonomi pada April 2026 mulai dirasakan semakin berat oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Indramayu. Kenaikan harga kebutuhan pokok yang terjadi secara bertahap namun konsisten, membuat pelaku usaha kecil harus berjuang ekstra untuk mempertahankan usahanya.
Tidak hanya sekadar angka dalam laporan ekonomi, inflasi kini benar-benar terasa di lapangan. Mulai dari pedagang gorengan, warung nasi, hingga pelaku usaha kecil di pasar tradisional, semuanya menghadapi tekanan yang sama: biaya produksi meningkat, sementara daya beli masyarakat justru menurun.
“Dagangan tetap jalan, tapi rasanya makin berat. Kaya jalan di tempat, ora maju-maju,” ungkap salah satu pelaku UMKM di wilayah Jatibarang.
Kenaikan harga bahan baku seperti minyak goreng, telur, beras, hingga kemasan plastik memaksa pedagang untuk menyesuaikan harga jual. Namun kondisi pasar tidak mendukung sepenuhnya. Konsumen kini lebih selektif dalam berbelanja, bahkan cenderung mengurangi frekuensi jajan.
Akibatnya, pelaku usaha dihadapkan pada dilema. Jika harga dinaikkan, pembeli berkurang. Namun jika tidak dinaikkan, keuntungan semakin menipis bahkan berpotensi merugi.
Salah satu contoh dialami pedagang gorengan di Jatibarang. Sebelumnya, dengan modal Rp150 ribu, ia bisa meraih omzet Rp250 ribu dengan keuntungan sekitar Rp100 ribu. Kini, modal meningkat menjadi Rp200 ribu, namun keuntungan justru turun drastis menjadi sekitar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu.
Kondisi ini mendorong sebagian pelaku UMKM mengambil jalan pintas dengan meminjam uang untuk menutup kebutuhan modal. Sayangnya, tidak sedikit yang terjerat pinjaman informal berbunga tinggi seperti bank emok atau pinjaman harian.
Fenomena “gali lubang tutup lubang” pun mulai terjadi. Secara ekonomi, kondisi ini berbahaya karena keuntungan usaha tidak lagi mampu menutup beban bunga pinjaman.
Selain tekanan finansial, pelaku UMKM juga menghadapi beban psikologis. Kekhawatiran terhadap hutang, dagangan yang tidak laku, hingga kebutuhan rumah tangga yang terus berjalan, membuat banyak pelaku usaha mengalami kelelahan mental.
Dalam kondisi tertekan, tidak sedikit yang mengambil keputusan emosional, seperti menurunkan kualitas produk atau menjual dengan harga sangat rendah demi mendapatkan uang cepat. Padahal, langkah tersebut berpotensi merusak keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.
Di sisi lain, masyarakat sebagai konsumen juga tengah mengalami tekanan yang sama. Inflasi membuat mereka harus mengatur ulang prioritas pengeluaran, sehingga permintaan terhadap produk UMKM ikut menurun. Dampaknya, perputaran uang menjadi lambat dan stok barang mulai menumpuk.
Pengamat ekonomi lokal Samsul Anwar, MBA (Akademisi & Pendamping UMKM)
menilai, kondisi ini menciptakan lingkaran masalah yang kompleks: biaya naik, daya beli turun, omzet menurun, hutang meningkat, hingga memicu kepanikan di kalangan pelaku usaha.
Meski demikian, masih ada pelaku UMKM yang mampu bertahan. Umumnya, mereka mulai menerapkan pengelolaan keuangan yang lebih disiplin, seperti memisahkan uang usaha dan pribadi, serta melakukan penyesuaian harga secara bertahap tanpa mengorbankan kualitas.
“Pelanggan sebenarnya bisa memahami kenaikan harga, asalkan kualitas tetap dijaga,” ujar seorang pelaku usaha kuliner.
Selain itu, pelaku UMKM juga diimbau lebih bijak dalam mengelola hutang dan mengurangi ketergantungan pada pinjaman berbunga tinggi. Langkah kecil seperti efisiensi biaya dan inovasi produk dinilai dapat membantu menjaga keberlangsungan usaha.
Peran pemerintah juga dinilai penting dalam situasi ini, tidak hanya dalam bentuk bantuan modal, tetapi juga edukasi dan pendampingan agar pelaku UMKM lebih siap menghadapi tekanan ekonomi.
April 2026 menjadi gambaran nyata bahwa di balik angka inflasi, terdapat perjuangan pelaku usaha kecil untuk tetap bertahan. Meski dihimpit berbagai kesulitan, mereka tetap berusaha bangkit dan beradaptasi.
“Sing penting isih iso urip, wis syukur,” ujar seorang pedagang.
Di tengah kondisi yang tidak menentu, kemampuan beradaptasi menjadi kunci utama. Sebab, yang mampu bertahan bukan hanya yang paling kuat, tetapi yang paling cepat menyesuaikan diri dengan perubahan. (Samsul)


