INDRAMAYU/ TUKDANA, indramayunews.id — Semangat kebangkitan pertanian kembali menggema dari Desa Sukamulya, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu. Ratusan petani bersama unsur militer, akademisi, tokoh masyarakat, dan penggerak sektor pertanian berkumpul dalam satu visi besar: menjadikan Indramayu sebagai pusat kekuatan kedelai nasional. (Minggu, 26/04/26)
Gerakan ini dikemas dalam program ketahanan pangan tanaman kedelai yang mengusung moto “Bareng-Bareng Sugi” — sebuah filosofi kebersamaan untuk maju tanpa meninggalkan siapa pun.
Program ini tidak berhenti pada seremoni. Dari tahap awal seluas 210 hektar, gerakan ini menargetkan ekspansi hingga 700 hektar di wilayah Tukdana dan sekitarnya. Optimisme tinggi muncul seiring penggunaan bibit unggul hasil riset panjang yang diyakini mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.
Target Besar: Dari 210 Hektar Menuju 700 Hektar
Program ketahanan pangan ini dirancang sebagai langkah konkret memperkuat kemandirian pangan nasional, khususnya komoditas kedelai yang selama ini masih bergantung pada impor.
Rincian Program:
- Luas tahap awal: 210 hektar
- Target pengembangan: 700 hektar
- Masa panen: ± 3 bulan per siklus
- Potensi peningkatan hasil: 3–4 kali lipat
Dengan siklus tanam yang cepat, petani berpotensi melakukan hingga tiga kali panen dalam setahun.
Dukungan Negara: Program Langsung dari Pusat
Kehadiran Kolonel Edi Eka dalam kegiatan tersebut menjadi penegasan kuat bahwa program ini merupakan bagian dari agenda strategis nasional.
Ia menyampaikan bahwa program kedelai ini merupakan mandat langsung dari Sekretariat Kabinet, sehingga memiliki dukungan penuh dari pemerintah pusat.

“Ini bukan program biasa. Ini adalah perintah langsung dari pusat. Kedelai adalah bagian dari kedaulatan pangan bangsa, dan Indramayu dipilih sebagai ujung tombak,” tegasnya.
Riset 25 Tahun: Terobosan Bibit Unggul
Sorotan utama dalam program ini adalah inovasi bibit kedelai hasil penelitian panjang oleh Prof. Ali Zum Mashar.
Selama lebih dari 25 tahun, penelitian tersebut menghasilkan varietas unggul dengan keunggulan:

- Masa panen cepat, sekitar 3 bulan
- Produktivitas meningkat hingga 3–4 kali lipat
- Telah mendapat pengakuan komunitas ilmiah internasional
“Ini saatnya kita buktikan bahwa petani Indonesia mampu menghasilkan panen berlipat. Dalam tiga bulan bisa panen, dan jika konsisten, Indramayu bisa menjadi penopang kebutuhan kedelai nasional,” ungkap Prof. Ali.
Ia juga mengungkapkan bahwa riset serupa untuk tanaman padi kini telah mencapai tahap lanjut, dengan potensi panen hanya dalam waktu 2,5 bulan.
Sukamulya Siap Jadi Percontohan Nasional
Kuwu Desa Sukamulya, Husni Tamrin, menyatakan kesiapan penuh wilayahnya untuk menjadi model pengembangan kedelai nasional.
“Kami siap menjadi contoh. Dengan dukungan petani, akademisi, dan pemerintah, kami yakin Sukamulya bisa berkontribusi nyata bagi ketahanan pangan Indonesia,” ujarnya.
Peran Donatur dan Gerakan Sosial Petani
Program ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk donatur H. Mulyadi yang menjadi penggerak utama di balik semangat kolektif petani.

Dari Petani untuk Petani: Lahirnya Gerakan “Bareng-Bareng Sugi”
Sosok Warsim, pelopor gerakan ini, menjadi simbol kebangkitan petani lokal. Ia menekankan bahwa kekuatan utama program ini adalah kebersamaan.
Suara Petani: Harapan dari Akar Rumput

Optimisme juga datang dari petani perempuan, Karsinah, yang mewakili suara akar rumput.
Selaras Visi Nasional Presiden Prabowo
Program ini sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional.
Indramayu yang selama ini dikenal sebagai lumbung padi kini diarahkan menjadi sentra kedelai nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan impor.
Dengan kombinasi:
- Inovasi teknologi pertanian
- Dukungan pemerintah pusat
- Semangat gotong royong petani
Program ini dinilai sebagai cetak biru nyata menuju kemandirian pangan Indonesia.
Fakta Singkat Program Kedelai Sukamulya
- Lokasi: Desa Sukamulya, Kecamatan Tukdana, Indramayu
- Tahap awal: 210 hektar
- Target: 700 hektar
- Masa panen: 3 bulan
- Peningkatan hasil: 3–4 kali lipat
- Produk hilir: kecap, tahu, tempe
- Moto: “Bareng-Bareng Sugi”
Penutup:
Dengan target ambisius, dukungan penuh negara, serta semangat kolektif petani, gerakan “Bareng-Bareng Sugi” bukan sekadar program pertanian. Ini adalah simbol kebangkitan petani Indonesia.
Dari Indramayu, harapan besar itu kini tumbuh — untuk Indonesia yang berdaulat pangan.(Dra)


