31 C
Indramayu
Senin, 6 Juli 2026

Panen Semangka dari Lahan Gersang, KTH Cemara Kulon Raup Puluhan Juta Berkat Dukungan Energi Surya

INDRAMAYU, indramayunews.id – Lahan pesisir yang dahulu gersang, kering, dan sulit ditanami di Desa Cemara Kulon, Kecamatan Losarang, kini berubah menjadi hamparan kebun semangka yang produktif. Perubahan tersebut membawa harapan baru bagi para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Cemara Kulon.

Di tengah teriknya matahari, Sukarma (50) bersama belasan anggota kelompok tampak memanen semangka berukuran besar dari lahan seluas 1,5 hektare yang mereka kelola di kawasan milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Sukarma mengenang, sebelum lahan itu berkembang seperti sekarang, para petani harus menghadapi berbagai tantangan. Saat musim kemarau mereka kesulitan mendapatkan air, sementara pada musim hujan harus berhadapan dengan serangan nyamuk rawa yang mengganggu aktivitas bertani.

“Kalau dulu saat kemarau susah air, saat hujan dihabisi nyamuk. Tapi sekarang, melihat merahnya semangka ini, rasa lelah bertahun-tahun terasa terbayar,” ujar Sukarma.

Pada pertengahan 2026, KTH Cemara Kulon berhasil menyelesaikan panen semangka kedua tahun ini. Dengan tiga kali masa panen dalam setahun, kelompok tersebut mampu menghasilkan sekitar tujuh ton semangka merah dan kuning setiap musim.

Hasil panen dijual dengan harga sekitar Rp6.000 per kilogram sehingga mampu menghasilkan keuntungan hingga Rp40 juta setiap musim tanam.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari pendampingan PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) sejak 2023. Selain semangka, kelompok tani juga membudidayakan berbagai jenis tanaman serta mengembangkan usaha lebah madu Trigona.

Keberlangsungan pertanian di lahan pesisir itu didukung sistem irigasi otomatis yang memanfaatkan panel surya berkapasitas 10 kWp, sehingga kebutuhan air tetap terpenuhi meski berada di kawasan yang minim sumber air tawar.

Tak hanya menghasilkan semangka, keberadaan berbagai tanaman berbunga juga menjadi sumber pakan lebah Trigona. Dari usaha tersebut, KTH Cemara Kulon mampu memproduksi sekitar 10 liter madu setiap bulan. Dengan harga jual Rp50.000 per 100 mililiter, usaha madu tersebut berpotensi memberikan tambahan pendapatan hingga Rp5 juta setiap bulan.

Menariknya, keberhasilan revitalisasi lahan di Cemara Kulon juga merupakan hasil kolaborasi antarkelompok binaan PHE ONWJ. Kesuburan tanah diperoleh dari pupuk organik berbahan limbah cangkang rajungan yang diproduksi kelompok binaan perusahaan di Desa Sukajaya, Kabupaten Karawang.

Head of Communication, Relations & CID PHE ONWJ, Ery Ridwan, mengatakan keberhasilan di Cemara Kulon merupakan implementasi pendekatan ekosistem yang terintegrasi dalam program pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, limbah cangkang rajungan yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan kini diolah menjadi pupuk organik yang mampu memperbaiki unsur hara tanah pesisir di Indramayu.

Selain itu, PHE ONWJ juga memanfaatkan energi baru terbarukan melalui instalasi panel surya 10 kWp untuk menggerakkan sistem irigasi otomatis.

“Mengairi lahan gersang dan berair payau di pesisir membutuhkan biaya besar. Karena itu, kami memanfaatkan energi matahari menjadi listrik melalui panel surya agar sistem irigasi dapat berjalan secara otomatis,” ujar Ery Ridwan.

Keberhasilan KTH Cemara Kulon menjadi bukti bahwa inovasi teknologi, pemanfaatan energi terbarukan, serta kolaborasi pemberdayaan masyarakat mampu mengubah lahan pesisir yang sebelumnya tandus menjadi kawasan pertanian produktif yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. (RILIS )

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

10,540FansSuka
1,787PengikutMengikuti
1,871PelangganBerlangganan

Latest Articles