Oleh: Supendi Samian
Ketua STIDKI NU Indramayu
Perempuan Indramayu Tak Harus Memilih
INDRAMAYU — Bagi banyak perempuan muda di daerah, melanjutkan pendidikan tinggi dan bekerja masih menjadi dua jalan yang seolah harus dipilih salah satunya. Ketika kebutuhan ekonomi keluarga datang lebih dahulu, kuliah sering menjadi impian yang harus ditunda.
Padahal, masa depan tidak semestinya dibangun dengan pilihan yang saling meniadakan.
Dari Kabupaten Indramayu, sebuah kolaborasi antara STIDKI NU Indramayu dan BTPN Syariah mencoba membuka jalan berbeda: perempuan dapat bekerja, memperoleh penghasilan, sekaligus melanjutkan pendidikan sarjana.
Gagasan ini sederhana, tetapi memiliki makna yang cukup besar. Perempuan tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi tenaga kerja, tetapi juga didorong menjadi manusia yang berpendidikan, mandiri, percaya diri, dan memiliki kemampuan untuk menentukan masa depannya.
Di sinilah pendidikan dan dunia kerja dipertemukan.
BTPN Syariah memberikan ruang bagi perempuan usia produktif untuk memasuki dunia profesional, sementara STIDKI NU Indramayu membuka kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
“Jangan sampai seorang perempuan harus memilih antara bekerja atau kuliah. Kalau keduanya bisa dilakukan, kenapa harus memilih salah satu?” kata saya.
Pendidikan Tidak Boleh Berhenti Ketika Seseorang Mulai Bekerja
Selama ini pendidikan tinggi terkadang dipandang sebagai sesuatu yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum seseorang masuk dunia kerja.
Namun realitas kehidupan tidak selalu demikian.
Banyak anak muda, khususnya perempuan di daerah, harus bekerja lebih dahulu karena kebutuhan keluarga. Ketika sudah bekerja, waktu dan biaya untuk kuliah menjadi persoalan tersendiri.
Karena itu, konsep bekerja sambil kuliah dapat menjadi salah satu jawaban.
Pendidikan tidak harus berhenti ketika seseorang mulai bekerja. Bahkan pengalaman bekerja dapat menjadi bagian dari proses pendidikan.
Di tempat kerja, seseorang belajar menghadapi karakter manusia yang beragam. Ia belajar berkomunikasi, menyelesaikan masalah, bekerja dengan target, membangun relasi, mengelola waktu, dan bertanggung jawab.
Semua itu adalah pembelajaran kehidupan yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas.
Sebaliknya, pendidikan tinggi memberikan fondasi pengetahuan, kemampuan berpikir kritis, wawasan akademik, serta kompetensi yang dapat memperkuat pengalaman profesional.
Karena itu, kuliah dan bekerja bukan dua dunia yang harus dipisahkan. Keduanya dapat saling melengkapi.
STIDKI NU: Pendidikan Harus Membuka Jalan
Bagi STIDKI NU Indramayu, pendidikan bukan hanya persoalan memperoleh ijazah.
Pendidikan harus mampu membuka jalan kehidupan.
Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki gelar akademik. Kampus juga harus mampu menjawab persoalan nyata masyarakat: bagaimana lulusan mendapatkan pengalaman, pekerjaan, keterampilan, jaringan, dan kemandirian.
Karena itu, kerja sama dengan dunia industri dan lembaga keuangan menjadi penting.
STIDKI NU ingin menghadirkan pendidikan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat, khususnya generasi muda dan perempuan.
Perempuan yang mendapatkan akses pendidikan dan pekerjaan memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan kapasitas dirinya.
Ia memiliki penghasilan. Ia memiliki ilmu. Ia memiliki pengalaman. Dan yang tidak kalah penting, ia memiliki keberanian untuk menentukan pilihan hidupnya.
BTPN Syariah dan Pemberdayaan Ekonomi
Di sisi lain, dunia usaha juga memiliki peran dalam membangun sumber daya manusia.
Kesempatan kerja bukan semata-mata hubungan antara perusahaan dan karyawan. Jika dikelola dengan perspektif pemberdayaan, pekerjaan dapat menjadi pintu masuk menuju peningkatan kualitas kehidupan.
Dalam program kerja sama ini, peserta mendapatkan pendapatan tetap serta sejumlah fasilitas sesuai ketentuan program, antara lain THR hingga dua kali gaji, BPJS dan asuransi rawat inap, fasilitas tempat tinggal, serta kendaraan kerja.
Peserta juga mendapatkan kesempatan mengikuti program beasiswa pendidikan sarjana melalui STIDKI NU Indramayu.
Terdapat pula peluang penghargaan berupa perjalanan ke luar negeri dan kesempatan melaksanakan ibadah umrah sesuai program dan ketentuan yang berlaku.
Dengan demikian, orientasinya tidak berhenti pada “mendapat pekerjaan”, tetapi bergerak menuju “membangun kehidupan yang lebih baik.”
Ketika Perempuan Berdaya, Keluarga Ikut Tumbuh
Ada alasan mengapa pemberdayaan perempuan penting dalam pembangunan ekonomi daerah.
Perempuan yang memiliki penghasilan memiliki ruang yang lebih besar untuk membantu keluarganya. Pendapatan dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pendidikan, kesehatan, maupun pengembangan ekonomi keluarga.
Dampaknya kemudian bergerak lebih jauh.
Ketika pendapatan masyarakat meningkat, konsumsi rumah tangga tumbuh. Aktivitas ekonomi lokal ikut bergerak. Uang yang diperoleh dari pekerjaan berputar kembali di masyarakat.
Karena itu, menciptakan kesempatan kerja bagi perempuan sesungguhnya bukan hanya kebijakan ketenagakerjaan.
Ia juga bagian dari investasi sosial dan ekonomi.
Terlebih bagi daerah seperti Indramayu yang memiliki wilayah luas dan karakter masyarakat yang beragam. Kesempatan kerja dan pendidikan belum tentu dapat diakses secara merata oleh seluruh generasi muda.
Kolaborasi pendidikan dan dunia kerja dapat menjadi salah satu jembatan untuk memperkecil kesenjangan tersebut.
Santri dan Perempuan Harus Masuk Dunia Profesional
Sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama, STIDKI NU juga melihat pentingnya membuka ruang yang lebih luas bagi santri dan generasi muda untuk memasuki dunia profesional.
Santri tidak harus berhenti pada pendidikan pesantren.
Nilai-nilai pesantren seperti adab, kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepedulian sosial justru dapat menjadi modal penting dalam dunia profesional.
Begitu pula perempuan.
Perempuan tidak semestinya hanya diposisikan sebagai objek pembangunan. Mereka harus menjadi subjek yang ikut menentukan arah kehidupan keluarga, masyarakat, dan daerah.
“Santri harus berani masuk ke dunia profesional. Perempuan juga harus diberikan ruang untuk berkembang. Kita ingin generasi muda memiliki ilmu sekaligus pengalaman,” kata saya.
Terbuka bagi Perempuan Usia 18–33 Tahun
Kesempatan ini terbuka bagi perempuan usia 18–33 tahun, dengan pendidikan minimal SMA/SMK, D3, atau S1.
Calon peserta diharapkan mampu mengendarai sepeda motor, senang bersosialisasi dan bertemu banyak orang, serta memiliki semangat untuk bekerja, belajar, dan berkembang.
Penempatan tersedia di sejumlah wilayah Kabupaten Indramayu, antara lain Gabus Wetan, Anjatan, Widasari, Cikedung, Trisi, Gantar, Sukra, Kroya, Karangampel, dan Juntinyuat.
Informasi dan pendaftaran:
Harno: 0896 6325 1789
Arifin: 0859 1148 90111
Zaenal: 0817 1745 4465
Hamdani: 0878 2825 90295
Bukan Sekadar Program, tetapi Sebuah Pesan
Pada akhirnya, yang sedang dibangun melalui kolaborasi ini bukan hanya program kerja dan kuliah.
Ada pesan yang jauh lebih besar.
Bahwa perempuan di daerah juga berhak memiliki mimpi yang besar.
Bahwa keterbatasan ekonomi tidak seharusnya otomatis menjadi batas pendidikan.
Bahwa bekerja tidak harus berarti berhenti belajar.
Dan bahwa kuliah tidak selalu harus menunggu seseorang memiliki pekerjaan yang mapan.
Kerja dan pendidikan dapat berjalan bersama.
Dari Indramayu, kita ingin membangun sebuah cara pandang baru: perempuan tidak harus memilih antara membantu ekonomi keluarga dan membangun pendidikan dirinya.
Ia bisa melakukan keduanya.
Karena ketika seorang perempuan memperoleh penghasilan, ia menjadi lebih mandiri.
Ketika ia memperoleh pendidikan, ia menjadi lebih berdaya.
Dan ketika kemandirian ekonomi bertemu dengan pendidikan, yang tumbuh bukan hanya seorang perempuan, tetapi juga keluarga dan masyarakat di sekitarnya.
Inilah makna sesungguhnya dari pemberdayaan.
Bukan sekadar memberi pekerjaan.
Bukan sekadar memberi beasiswa.
Tetapi membuka jalan agar perempuan mampu membangun masa depannya sendiri.
Dari Indramayu, semoga lahir semakin banyak perempuan yang bekerja, kuliah, berdaya, dan membawa berkah bagi keluarganya.
Kerja • Kuliah • Berkah • Masa Depan Cerah.


