Oleh : Uswatun Hasanah, S.ST., S.KM., MH. Kes., Bd. Kasie PTM dan Keswa Dinkes Indramayu
SALAH SATU masalah yang dihadapi dalam pembangunan kesehatan saat ini adalah terjadinya pergeseran pola penyakit dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Tingginya prevalensi penyakit tidak menular membawa dampak terhadap menurunnya produksitivitas dan gangguan pada pemenuhan aktivitas sehari-hari.
Laporan dari WHO menunjukkan bahwa PTM sejauh ini merupakan penyebab utama kematian di dunia, yang mewakili 63% dari semua kematian tahunan. PTM membunuh lebih dari 36 juta orang setiap tahun. Kematian akibat penyakit kardiovaskular paling banyak disebabkan oleh PTM yaitu sebanyak 17,3 juta orang per tahun, diikuti oleh kanker (7,6 juta), penyakit pernafasan (4,2 juta), dan DM (1,3 juta).
Keempat kelompok jenis penyakit ini menyebabkan sekitar 80% dari semua kematian PTM. Penyakit tidak menular diketahui sebagai penyakit yang tidak dapat disebarkan dari seseorang terhadap orang lain. Terdapat empat tipe utama penyakit tidak menular yaitu penyakit kardiovaskuler, kanker, penyakit pernapasan kronis, dan diabetes.
Penyakit Tidak Menular (PTM) : Karakteristik dan Resiko
Penyakit tidak menular (PTM), juga dikenal sebagai penyakit kronis, tidak ditularkan dari orang ke orang. Penyakit tidak menular mempunyai durasi yang panjang dan umumnya berkembang lambat. PTM merupakan penyakit yang bukan disebabkan oleh proses infeksi. Beberapa penelitian menunjukkan PTM tidak memberikan gejala signifikan dan penderita relatif dalam keadaan seperti kelelahan sehingga PTM sering diabaikan dan keluhan yang sebenarnya merupakan gejala awal PTM tidak ditanggulangi.
Pada umumnya masyarakat menganggap PTM disebabkan oleh faktor genetik dan merupakan penyakit orang tua atau orang kaya hingga pemahaman tentang faktor risiko dan komplikasinya pun belum banyak mereka miliki.
Penyakit tidak menular memiliki beberapa karakteristik, antara lain sebagai berikut : Perkembangan penyakit tidak melalui suatu rantai penularan tertentu : masa inkubasinya panjang dan laten : perlangsungan penyakit berlarut-larut (kronis) : banyak menghadapi kesulitan diagnosis : memerlukan biaya yang tinggi dalam upaya pencegahan maupun penanggulangannya, dan faktor penyebabnya bermacam-macam (multikausal), bahkan tidak jelas.
Untuk mengamati PTM dengan perlangsungan kronis dan masa laten yang panjang, akan ditemukan kesulitan jika hanya melakukan observasi berdasarkan pengalaman pribadi dari anggota masyarakat saja. Ada banyak hubungan antara keterpaparan dengan kejadian penyakit, hingga pendapat pribadi saja tidak mencukupi. Penyakit yang sifatnya menahun sangat berkaitan erat dengan gangguan kesehatan akibat kemajuan dalam berbagai bidang terutama bidang industri yang banyak mempengaruhi keadaan lingkungan; termasuk lingkungan fisik, biologis maupun sosial budaya.
Hal di atas membuktikan bahwa PTM memerlukan pendekatan epidemiologi tersendiri, mulai dari penentuannya sebagai masalah kesehatan masyarakat sampai upaya pencegahan dan penanggulangannya.
Empat jenis utama dari penyakit tidak menular adalah penyakit kardiovaskular (seperti serangan jantung dan stroke), kanker, penyakit pernapasan kronis (seperti penyakit kronis paru dan asma) dan diabetes. Dilansir dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, dikatakan bahwa Indonesia mengalami kenaikan prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM).
Bahkan PTM menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Hasil Riskesdas menyatakan penyakit tidak menular tersebut terdiri dari kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi. Peningkatan PTM berakibat buruk pada pertumbuhan ekonomi dan produktivitas negara. Sebab dalam penanganannya memerlukan biaya besar serta jangka waktu yang lama. Maka dari itu perlu kerja keras dari seluruh lapisan masyarakat untuk menuntaskan kenaikan prevalensi PTM dan pemerintah harus fokus dalam pemerataan jaminan kesehatan. Di dunia, WHO mencatat 17 juta orang meninggal dini akibat penyakit tidak menular, sebagian besar antara umur 30 dan 70 tahun. Sebagian besar kematian terjadi di negara berpendapatan rendah.
Sasaran PTM adalah kelompok umur 15 tahun ke atas. Di kelompok itu semua rentan terhadap faktor-faktor risiko PTM; seperti misalnya diet yang tidak sehat, aktivitas fisik yang kurang, paparan asap tembakau, atau penggunaan alkohol. Data distribusi penyebab kematian pada semua kelompok umur di Indonesia menunjukkan PTM sebagai penyebab utama kematian (59,5%). Terjadi peningkatan angka PTM dari tahun ke tahun, di antaranya hipertensi, stroke dan diabetes mellitus (DM).
Salah satu penyebab tingginya kasus PTM adalah pergeseran budaya pada masyarakat Indonesia, yang sebelumnya merupakan masyarakat agraris dengan banyak pekerjaan fisik menjadi masyarakat industri yang cenderung memilih hal-hal instan dalam aktivitas sehari-hari. Perubahan pola hidup dalam jangka lama akan mengubah fertilitas, gaya hidup, dan faktor sosial-ekonomi yang menjadi pemicu peningkatan PTM.
Banyaknya peraturan yang bertujuan mengendalikan peningkatan PTM di Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia giat melakukan pengendalian PTM. Makin gencarnya penyuluhan atau pendidikan kesehatan guna membangun pola hidup sehat mulai dari pemilihan jenis makanan hingga peningkatan aktivitas fisik juga menjadi bentuk nyata pengendalian PTM di Indonesia. Bagi individu, penting untuk mengetahui pengendalian PTM di Indonesia guna meningkatkan kesadaran pribadi dalam melakukan pencegahan dengan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat.
Peningkatnya kasus PTM secara signifikan diperkirakan akan menambah beban masyarakat dan pemerintah, karena penanganannya membutuhkan biaya yang besar dan memerlukan teknologi tinggi. Untuk itu, dibutuhkan komitmen bersama dalam menurunkan morbiditas, mortalitas dan disabilitas PTM melalui intensifikasi pencegahan dan pengendalian menuju Indonesia Sehat, sehingga perlu adanya pemahaman yang optimal serta menyeluruh tentang besarnya permasalahan PTM dan faktor risikonya pada semua pengelola program disetiap jenjang pengambil kebijakan dan lini pelaksanaan.
Situasi Penyakit Tidak Menular di Indonesia
Dalam beberapa dasawarsa terakhir Indonesia menghadapi masalah triple burden diseases. Di satu sisi, penyakit menular masih menjadi masalah dengan sering terjadinya KLB beberapa penyakit. Di sisi lain masih ada kasus sejumlah penyakit menular lama yang muncul kembali (re-emerging diseases). Sementara itu, penyakit-penyakit menular baru (new-emerging diseases) seperti HIV/AIDS, Avian Influenza, Flu Babi dan Penyakit Nipah pun muncul. Angka kasus PTM sendiri menunjukkan kecenderungan makin meningkat dari waktu ke waktu. Data Riskesdas 2018 menunjukkan beberapa PTM—berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan—memiliki prevalensi sebagai berikut: kanker, hipertensi, penyakit jantung koroner (PJK) %, dan stroke.
Penyakit-penyakit tersebut termasuk ke dalam 10 besar penyakit yang terbanyak diderita di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini. Penyakit-penyakit itu disebabkan oleh perilaku tidak sehat seperti merokok, diet tidak seimbang dan aktivitas fisik yang tidak menunjang. Perilaku merokok masyarakat Indonesia saat ini sudah sangat mengkhawatirkan, dimana 34,8% orang dewasa merokok. Kematian akibat PTM sangat mengkhawatirkan karena terus meningkat tiap tahunnya dan semakin banyak dibandingkan dengan beberapa penyakit menular yang menurun tiap tahunnya. Data Riskesdas 2018 menunjukkan kematian akibat PTM meningkat menjadi 59,5%, setelah sebelumnya hanya 49,9% di tahun 2001 berdasarkan data SKRT.
Terdapat beberapa faktor risiko dalam PTM, yakni suatu kondisi yang potensial berbahaya dan dapat memicu terjadinya PTM pada seseorang atau kelompok tertentu. Faktor risiko yang dimaksud antara lain kurang aktivitas, diet yang tidak sehat dan tidak seimbang, merokok, konsumsi alkohol, obesitas, hiperglikemia (tingginya kadar glukosa darah), hipertensi, hiperkolesterol, dan perilaku yang berkaitan dengan kecelakaan dan cedera— misalnya perilaku berlalu lintas yang tidak benar.
Perilaku yang menjadi faktor risiko utama PTM antara lain penggunaan tembakau, kurangnya aktivitas fisik, diet yang tidak sehat, dan konsumsi alkohol. Kejadian kematian akibat faktor risiko utama PTM di atas digambarkan pada data bahwa : Setiap tahun terjadi sekitar 6 juta kematian akibat tembakau (termasuk yang diakibatkan efek paparan asap tangan kedua), dan diproyeksikan meningkat menjadi 8 juta pada tahun 2030; sekitar 3,2 juta kematian per tahun dapat dikaitkan dengan kurangnya aktivitas fisik; lebih dari setengah dari 3,3 juta kematian PTM per tahun diakibatkan konsumsi alkohol.
Di Indonesia, sepuluh faktor risiko PTM ialah konsumsi garam berlebih, konsumsi lemak berlebih, konsumsi sayur dan buah yang kurang, konsumsi makanan cepat saji, konsumsi pangan dengan kandungan glukosa yang tinggi, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, emotional-mental disorder, konsumsi alkohol, dan konsumsi rokok.Faktor risiko tersebut akan memicu penyakitantara berupa hipertensi, hiperglikemia, dislipidemia, lesi pra kanker, dan ronchitis/ efisema/ efusi pleura.
Jika tidak dilakukan penanganan dini, penyakit-antara akan masuk pada fase akhir yang biasanya berupa PJK, stroke, diabetes, gagal ginjal kronik, kanker, dan cedera lainnya.
Pengendalian Penyakit Tidak Menular
PTM tidak dapat dipandang sebelah mata karena tiap tahunnya mengalami peningkatan kasus. Pengendalian PTM dapat dilakukan dengan strategi penanggulangan meliputi advokasi, bina suasana, dan pemberdayaan masyarakat. Pengendalian berfokus pada faktor risiko, komitmen, dan konsistensi pemangku kebijakan dalam pengimplementasian peraturan yang berhubungan dengan PTM dan memaksimalkan posbindu guna deteksi dini dan tindak lanjut di masyarakat.
Untuk mengurangi dampak PTM pada individu dan masyarakat, diperlukan pendekatan komprehensif yang membutuhkan peran banyak sektor; seperti kesehatan, ekonomi, urusan luar negeri, pendidikan, pertanian, dan lainnya untuk bekerja sama mengurangi distribusi faktor risiko PTM, melalui intervensi untuk mempromosikan pencegahan dan pengendalian PTM.
Deteksi dini serta pengobatan yang tepat membuat pengendalian PTM lebih baik. Surveilans kasus dan faktor risiko PTM menjadi strategi untuk pencegahan, pengendalian tepat serta terpadu oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat. Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat untuk CERDIK dalam mengendalikan Penyakit Tidak Menular (PTM). Mari menuju masa muda sehat, hari tua nikmat tanpa penyakit tidak menular dengan perilaku CERDIK.
CERDIK adalah slogan kesehatan yang setiap hurufnya mempunyai makna yaitu; C = Cek kesehatan secara berkala, E = Enyahkan asap rokok, R = Rajin aktifitas fisik, D = Diet sehat dengan kalori seimbang, I = Istirahat cukup dan K = Kelola stress. Perilaku CERDIK ini dapat diterapkan untuk mencegah dini menghindari penyakit tidak menular.
Cara berikutnya adalah dengan Skrining Penyakit Tidak Menular (PTM) yang merupakan salah satu upaya kesehatan masyarakat (UKM) yang berorientasi kepada upaya promotif dan preventif dalam pengendalian penyakit tidak menular dengan melibatkan masyarakat mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan monitoring-evaluasi.
Salah satunya dengan memeriksakan diri pada fasilitas pelayanan kesehatan seperti : Puskesmas, Posbindu PTM, atau Faskes lainnya. Kegiatan yang dilakukan, yaitu: penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan (menentukan IMT); pemeriksaan tekanan darah; pemeriksaan lingkar perut; pemeriksaan laboratorium ( gula darah, dan bila beresiko disertakan kolesterol dan asam urat) serta pemeriksaan kadar CO paru; serta konsultasi kesehatan.
Melalui CERDIK masyarakat bisa memulai menata pola hidup dari mulai mengatur pola makan dan pola istirahat, hal ini menjadi kunci penting dalam hidup sehat. Dengan Cerdik dan melalui deteksi PTM semua penyakit terdeteksi sedini mungkin dan dapat segera diatasi sehingga umur harapan hidup akan meningkat dan standar pelayanan minimum (SPM) akan tercapai sesuai target.



[…] Sumber […]
Mantap bu haji Uswatun👍👍👍