INDRAMAYU, indramayunews.id – Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun Indramayu terus jadi perbincangan dan tak ada habisnya. Setelah viral adanya sholat Ied shaf depan yang bercampur dengan salah seorang perempuan.
Salah satu jamaah dari umat nasrani yang ikut dalam barisan di Ponpes Al Zaytun, serta santri di Ponpes Al Zaytun Indramayu saat mengumandangkan adzan dengan gerakan. Kini satu per satu soal Ponpes Al Zaytun Indramayu tersebut terus terkuak.
Selain adanya hal yang tak sesuai syariat Islam itu, pernyataan Panji Gumilang saat menerima kunjungan sejumlah petugas dari Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Indramayu menyatakan, bahwa di Ponpes Al Zaytun itu menggunakan mazhab Bung Karno atau Ahmad Soekarno, dan lebih membingungkan lagi, Panji Gumilang menyatakan akan ada khotib Sholat Jum’at dari pelajar putri.
Dikutip dari radarindramayu.id, untuk mencari kebenaran informasi tersebut, Panji Gumilang menjawab bahwa hal itu tidak usah dibesar-besarkan. Diakuinya, sholat berjarak itu sudah lama dilakukan semenjak ada pembangunan masjid. Hanya saja baru dilakukan secara intensif setelah ada fatwa larangan salat di dalam masjid.
Panji Gumilang menjelaskan, saat itu ia menolak adanya fatwa yang melarang masuk atau sholat di masjid. Karena kalau ia tidak menolak maka semua masjid saat itu bisa kosong dan Panji menanyakan apakah menginginkan masjid di Mekah juga kosong.
”Tentunya tidak dan jangan sampai terjadi kekosongan dalam beribadah,” jelas Panji Gumilang seraya menegaskan bahwa sang pencipta menganjurkan berlapang-lapanglah kamu dalam majelis karena sholat adalah majelis.
Panji tidak mau menjelaskan bahwa jamaah sholat Ied itu ada sosok perempuan di shaf depan yang merupakan istrinya.
“Perempuan yang berada di barisan depan bukan hanya sendirian, tapi banyak perempuan lainnya berada di belakang dan di lantai bawah masjid,” katanya.
Diceritakan Panji, saat itu jumlah jamaah di lantai bawah mencapai 2.500 jamaah dan sebagian besar perempuan dan berjajar bareng. Ketika disinggung apakah ada dalil yang menerangkan hal tersebut, Panji Gumilang juga menegaskan bahwa pihaknya tidak sedang berjuakan dalil.
“Silahkan anda baca Al Quran saja nanti akan ketemu. Jangan bicara dalil karena saya tidak sedang berdagang dalil,” imbuhnya.
Terkait dengan hak perempuan yang harus dijunjung tinggi, Panji merasa aneh kenapa menjadi persoalan. Ia lebih memerintahkan untuk mengembalikan sebuah persoalan tersebut kepada Al Qur’an. Karena ia menambahkan, hak perempuan dan laki-laki itu sama dan tidak boleh ada diskriminasi terhadap perempuan.
”Nanti ke depan kita akan menunjuk perempuan untuk mengantikan perannya laki-laki. Seperti sebagai Khatib yang akan di praktekan di lembaga pendidikan, artinya nanti aka nada khatoib dari pelajar putri,” imbuhnya.
Semengtara adanya seorang yang sedang duduk di kursi saat jamaah sholat ied. Diakuinya bahwa orang tersebut adalah teman dekat Panji dan beragama non muslim atau nasrani, ia juga menjelaskan bahwa yang duduk itu adalah wartawan senior dari Jakarta dan setiap lebaran ia mengundangnya untuk datang ke Ponpes Al Zaytun.
”Apakah tidak boleh kalau ada agama lain yang hadir saat sholat, kami lebih kepada menghormati seseorang dan saya siapkan untuk duduk disamping bukan ikut sholat,” tegas Panji Gumilang. (Tim)


