INDRAMAYU, indramayunews.id – Pondok Pesantren (Ponpes) Mahad Al Zaytun di Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu kini terus menjadi perhatian publik. Bermula dari viralnya salat Idul Fitri yang menempatkan istri Syekh Panji Gumilang berada di shaf paling depan.
Juga yang tidak kalah heboh lagi adalah ada seorang Nasrani yang bernama Robin Simanullang ikut salat Idul Fitri. Namun semuanya ditanggapi dengan hati dingin oleh Syekh Panji Gumilang. Bahkan ia tak menyesali apa yang sudah terjadi dan berusaha untuk tidak menjawab semua tuduhan yang tidak berdasar.”Biarkan saja karena kalau ditanggapi tak ada gunanya. Karena yang ngomong juga tidak ada orangnya,”jelas Syekh Panji Gumilang dalam video yang beredar tentang menanggapi hal tersebut.
Dibalik semua tuduhan miring yang dilakuka oleh orang yang tak mau Al-Alzaytun maju. Keberadaan Zaytun juga membawa berkah bagi para petani di sekitar ponpes terbesar se Asia Tenggara ini.
Program yang sangat menyentuh warga setempat adalah kemitraan garapan sawah untuk para petani warga sekitar lingkungan pesantren. Pada program tersebut, setiap warga boleh menjadi petani penggarap
Tidak hanya itu, hasil panen mereka akan dibeli oleh Lembaga Kemakmuran Masjid (LKM) Rahmatan Lil Alamin. Dengan pengelolaan semacam itu, Mahad Al Zaytun bisa memenuhi kecukupan pangan. Khususnya beras secara mandiri.
“Di sini ratusan bau, ratusan hektare dibagi-bagikan ke masyarakat sekitar. Ada yang garap 10 bau. Tidak pakai pinjam ke rentenir. Karena disiapkan modalnya,” kata Syekh Panji Gumilang
Dengan model tersebut, petani tidak lagi terjebak dengan rentenir alias lintah darat dan tidak terbebani dengan bunga.
“Karena kita menganut agama, tidak pakai riba. Utang sewu bayar sewu. Apa bisa? Ya bisa. Wong kita bisa. Kalau kita bilang nggak bisa ya nggak bisa,” bebernya.
Kemudian, permodalan untuk lahan pertanian yang demikian luas, juga tidak memakai perbankan. Sebab, nantinya bisa merepotkan.
“Dan bank-nya bukan bank syariat. Kalau bank syariat repot. Ya dari Yayasan Pesantren Indonesia yang dinaungi lembaga kesejahteraan masjid,” jelasnya.
Begitu masuk masa panen, nantinya padi dari petani juga akan dibeli. Pembayarannya dari keuangan dari LKM.
“Karena kita nanam itu, untuk persiapan pangan. Harganya ikut ketetapan negara. Makanya tidak pernah kekurangan pangan,” jelasnya.
Menariknya, untuk 1 periodesasinya di Mahad Al Zaytun tidak menggunakan sistem 12 bulan atau 1 tahun.
Tetapi, hitungannya adalah 18 bulan. Hal itu, sebagai antisipasi kalau pada 6 bulan terjadi gagal panen maupun masalah lainnya.”Ngitung persiapan1 tahun, bukan 12 bulan. Minimal 18 bulan. Jadi kalau ada masalah masih ter-cover 6 bulan,” katanya.
Menariknya, kelompok tani penggarap tersebut juga dilembagakan dengan nama P3KPI atau Paguyuban Petani Penyangga Ketahanan Pangan Indonesia. Lembaganya diresmikan notaris, didaftarkan ke Kemenkum-HAM.
“Majelis ulama nggak tau, yang tau departemen agama. Mengapa? Kalau departemen agama mengurus keagamaan,” jelasnya.
Diungkapkan dia, yang dilakukan oleh Mahad Al Zaytun belum tentu bisa dikerjakan oleh orang lainnya. Apalagi dirinya adalah pendatang, tetapi ingin membangun Indramayu dan Indonesia.
“Saya ini orang Gresik, punya istri Banten. Sekarang ada di Indramayu. Tengah-tengahnya Pulau Jawa itu Indramayu. Di tempat ini. Bukan Semarang,” tandasnya.
Di kesempatan itu, Kepala Kantor Kemenag Indramayu, Muh Mulyadi mengungkapkan bahwa Mahad Al Zaytun adalah binaan dari Kemenag.
Karena itu. lembaga pendidikan di Al Zaytun mengikuti ketentuan dari Kemenag RI. “Ini bersyukur sekali, terutama pada Syekh Panji Gumilang yang luar biasa. Kami tahu banyak dan banyak pencerahan,” ungkapnya.
Kepala Kemenag Indramayu mengaku, banyak bicara soal program pertanian. Ada 150 hektare yang sedang disiapkan dengan menggunakan cara pengolahan modern.
“Sekarang sudah mulai digarap. Kami bangga terhadap Al Zaytun, karena setiap ada kegiatan pendidikan maupun pondok pesantren, santri maupun siswa banyak yang menonjol. Ini sudah diperhitungkan di tingkat Jawa Barat maupun di nasional,” tandasnya. (dra)


