31.8 C
Indramayu
Senin, 20 April 2026

MENGGUNTING STUNTING ITU PENTING

Oleh:

Bdn. Uswatun Hasanah, S.ST. SKM. M.H.Kes

Hari Kesehatan Nasional ke-59 mengusung tema Transformasi Kesehatan untuk Indonesia Maju, cegah dan mengatasi stunting menjadi bagian integral dari tema tersebut.

Berbagai upaya pencegahan dan penatalaksanaan stunting menggambarkan komitmen Indonesia untuk membangun generasi yang sehat, tangguh, cerdas, dan gemilang yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan nasional.

Termasuk mempersiapkan momentum generasi emas Indonesia 2045 yang menjadi tonggak waktu penting karena bertepatan dengan 100 tahun Indonesia merdeka. Selain itu sebelum tahun 2045, kita akan melewati terjadinya bonus demografi (demographic dividend) pada tahun 2035, di mana struktur kependudukan kita akan didominasi oleh mayoritas penduduk berusia produktif. Di 2045 Indonesia secara matematika anak-anak pada usia 0-10 tahun pada saat ini akan berusia 27-37 tahun.

Dimana pada rentang usia tersebut merupakan rentang usia produktif dan akan sangat berpengaruh pada seluruh aspek pembangunan Indonesia.  Para pelajar dan mahasiswa saat ini 27-40 tahun kedepan akan menjadi pemimpin-pemimpin yang akan memimpin beragam sektor di Indonesia.

Indonesia mempersiapkan generasi emas 2045 merupakan hal yang tidak mudah. Hal ini menurut Hafsanah Bedasari dkk (2021:45) dikarenakan stunting masih menjadi masalah gizi utama bagi bayi dan anak dibawah usia dua tahun di Indonesia. Kondisi tersebut akan menghambat momentum generasi emas Indonesia 2045 dan harus segera dientaskan. Stunting dalam penjelasan resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan kurangnya asupan gizi akibat pemberian makanan yang tidak memenuhi kebutuhan gizi dasar.

Stunting merupakan suatu gangguan perkembangan pada anak yang disebabkan oleh permasalahan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak adekuat. Stunting adalah permasalahan gizi penting bagi generasi bangsa di masa depan karena berhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan otak yang suboptimal sehingga perkembangan motorik lambat, serta terhambatnya pertumbuhan mental. Satu dari empat balita Indonesia mengalami stunting. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia tahun 2022 angka stunting nasional mengalami penurunan yakni 24,4% di tahun 2021 dan 21,6% di tahun 2022.

Namun demikian, Sumatera Barat mengalami peningkatan kasus yakni 23,3% (2021) menjadi 25,2% (2022), di atas rata-rata prevalensi stunting Nasional.Stunting mencerminkan kekurangan gizi selama periode pertumbuhan dan perkembangan paling kritis di awal kehidupan.

Berdasarkan grafik pertumbuhan WHO, seorang anak dengan tinggi badan ≥-2 standar deviasi median pertumbuhan anak dikatakan mengalami stunting atau pendek. Stunting merupakan salah satu permasalahan gizi yang dihadapi di dunia, khususnya di negara-negara miskin dan berkembang termasuk Indonesia.

Mempertimbangkan prevalensi kasus serta dampak jangka panjang bagi bangsa Indonesia, maka perayaan Hari Kesehatan Nasional ke-59 tahun ini menjadi momentum bersama untuk menggalang kolaborasi dalam upaya optimalisasi status gizi. Edukasi gizi di 1000 hari pertama kehidupan adalah upaya awal pencegahan stunting.

Edukasi tentang makanan bergizi bagi ibu hamil dan balita serta akses terhadap suplemen gizi atau pemberian makanan tambahan merupakan hal yang diperlukan dalam rangka optimalisasi status gizi ibu dan balita. Promosi ASI Eksklusif berupa pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan adalah kunci untuk memberikan nutrisi optimal kepada bayi. Konsumsi Makanan Pendamping ASI (MP ASI) yang tepat, seimbang, dan sesuai kebutuhan anak adalah langkah lanjutan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan, serta kecerdasan yang optimal.

Upaya di atas disertai dengan dilakukannya diversifikasi pangan yang bertujuan mendorong konsumsi beragam jenis makanan yang kaya akan nutrisi, termasuk sumber protein hewani dan nabati, sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian oleh masyarakat. Investasi dalam produksi pangan lokal juga akan mendukung ketersediaan pangan yang berkualitas, mengurangi ketergantungan pada impor, dan mempromosikan pilihan makanan yang lebih sehat.

Layanan kesehatan dan pendidikan melalui peningkatan aksesibilitas dan kualitas layanan kesehatan serta pendidikan gizi di tingkat komunitas berpeluang menciptakan edukas informasi yang dibutuhkan oleh ibu dan keluarga. Pemantauan status gizi dan kesehatan ibu hamil, pengawasan pertumbuhan secara teratur dan pelaksanaan program pemantauan pertumbuhan akan membantu mengidentifikasi potensi masalah stunting lebih awal.

Pemberdayaan perempuan sebagai peran sentral dalam pencegahan stunting, terutama sebagai pengelola rumah tangga, melalui dukungan untuk pendidikan gizi dan kesehatan reproduksi akan berdampak positif pada kesejahteraan keluarga.

Melawan Stunting Penting : Inovasi Indramayu

Bupati Indramayu, dalam satu tahun terakhir pendapatkan paling tidak dua perhargaan berkaitan dengan ‘perlawanan’ terhadap stanting. Pertama adalah Penghargaan Manggala Karya Kencana (MKK) oleh pemerintah pusat melalui BKKBN dan Bupati Indramayu. Hj. Nina Agustina, S.H. M.H. CRA. menjadi satu-satunya kepala daerah di Jawa Barat yang menerima penghargaan MKK tahun 2023 ini, karena merupakan sosok yang dinilai mempunyai dedikasi tinggi terhadap program pengendalian penduduk dan penurunan stunting.

Kedua adalah penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam pelaksanaan 8 aksi konvergensi penurunan stunting terintegrasi kategori paling inovatif di Provinsi Jawa Barat Tahun 2022.
Pemerintah Kabupaten Indramayu telah menurunkan angka stunting di tahun 2022 ke angka 14,4% dari sebelumnya 29,9% di tahun 2019. Percepatan penurunan stunting menjadi konsen serius yang dilakukan Pemkab Indramayu.

Inovasi yang telah dilakukan oleh Bupati Indramayu berkaitan dengan penurunan angka stunting berupa Program Orang Tua Asuh Anak Stunting (OTAAS), Aplikasi GESIT untuk memantau dampak pemberian paket asuhan anak stunting, dan Kartu Pemantauan Orang Tua Asuh Balita Stunting sebagai instrumen memantau perkembangan intervensi anak stunting. Orang Tua Asuh Balita Stunting yakni suatu gerakan gotong royong seluruh pemangku kepentingan dalam mempercepat penurunan stunting yang menyasar langsung keluarga berisiko stunting. Gerakan ini melibatkan 987 orang yang merupakan pejabat eselon II, III, dan IV hingga ke para kuwu (kepala desa) dengan jumlah anak asuh stunting sebanyak 1.215 anak.Hasilnya, angka stunting terus mengalami penurunan.

Penulis pernah melakukan penelitian di sebuah Kecamatan di Kabupaten Indramayu, dimana menjadikan anak-anak penderita stunting sebagai obyek pemberian makanan tambahan. Jumlah anak penderita stunting di wilayah Kecamatan Bangodua sebanyak 51 anak dengan rentang usia 2-5 tahun. Dari hasil penelitian, dimana pemberian bahan makanan tambahan telah dilaksanakan sebanyak 2 kali dalam sebulan, diperoleh data bahwa anak-anak penderita stunting menyukai bahan makanan yang telah diberikan.

Pemberian bahan makanan ini dilakukan setiap satu minggu sekali dengan metode door to door sekaligus pendataan mengenai perkembangan anak.

Berdasarkan hasil penelitian juga yang menyebabkan asupan makanan penderita stunting adalah kebiasaan penderita stunting dalam mengkonsumsi makanan selingan/ makanan cepat saji yang rendah gizi secara berlebihan, sehingga penderita stunting sudah merasa kenyang sebelum makan makanan utama. Hal ini sesuai dengan penelitian (Rahmadhita, 2020) dan (Torlesse et al., 2016) terkait faktor- factor stunting. Pemberian PMT ini dilaksanakan dengan maksud agar pemenuhan gizi anak yang sudah terlanjur stunting teratasi dengan baik dan benar.

Menu yang diberikan bervariasi pada setiap pemberian. PMT pada program ini diberikan seminggu 2 kali selama setahun untuk menunjang kebutuhan gizi anak stunting, PMT akan lebih efektif apabila diberikan setiap hari selama 90 hari supaya kebutuhan gizi anak stunting benar-benar terpenuhi secara maksimal dan dapat diketahui perubahan dan perkembangan yang dialami anak tersebut. Dengan pemberian PMT yang sudah berjalan ini dapat dilihat adanya peningkatan yang terjadi dalam perkembangan anak, yakni salah satunya bertambahnya berat badan yang bertahap.

Pencegahan terhadap stunting perlu dilakukan sedini mungkin, yakni sejak ibu mengandung. Harus dipastikan bahwa asupan gizi bagi ibu hamil terpenuhi. Maka dari itu, ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi makanan bergizi selama masa kehamilan. Ibu hamil dapat mengonsumsi suplemen zat besi sesuai anjuran dokter jika dibutuhkan. Selain itu, ibu hamil harus memastikan kondisi kehamilan dengan cara melakukan cek kesehatan secara rutin ke bidan atau dokter atau sering disebut dengan pelayanan antenatal. Berdasarkan data dari tahun 2021, Pencapaian program untuk K1 dan K4 pada tahun 2020 di Kabupaten

Indramayu sudah mencapai target, dengan cakupan K1 sebanyak 32.450 (111,8
%) dan K4 sebanyak 29.615 (102,1 %). Hal ini menandakan bahwa semakin baiknya capaian K1 dan K4 menggambarkan adanya jalinan kerjasama yang baik dalam melaksanakan pemantauan wilayah setempat antara puskesmas dengan PMB (Praktik Mandiri Bidan) yang berpraktik di wilayah kerja puskesmas, sehingga kunjungan K4 terpantau dan terlaporkan dengan lebih baik.

Berkaitan dengan pola asuh berdasarkan data Kemenkes, proporsi inisiasi menyusu dini (IMD) untuk bayi baru lahir yaitu 75,26 persen. Artinya delapan dari sepuluh bayi baru lahir sudah mendapat inisiasi menyusui dini. Selanjutnya, proporsi bayi yang mendapat air susu ibu (ASI) ekslusif sebesar 79,45 persen. ASI ekslusif merupakan sumber nutrisi bagi sejak bayi lahir yang tentunya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhannya terutama risiko terjadinya stunting.

Riskesdas menunjukkan baduta yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap sekitar 53 persen yang artinya baru setengah baduta yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Begitu juga dengan kecukupan vitamin, hanya setengah dari balita (50 persen) yang mendapatkan capsul vitamin A dalam 12 bulan terakhir. Pemantauan pertumbuhan balita juga masih rendah. Hanya sekitar 64 persen balita yang pertumbuhan tubuhnya diukur lebih dari delapan kali selama 12 bulan terakhir sedangkan balita yang ditimbang kurang dari delapan kali sekitar 33 persen dan sisanya tidak pernah diukur pertumbuhannya. Perlu adanya penyebaran informasi yang masif dan tepat sasaran terkait pencegahan stunting. Ibu dan calon ibu harus memenuhi kebutuhan gizi sebelum maupun saat proses kehamilan.

Selain itu, wajib mengetahui pentingnya ASI bagi tumbuh kembang bayi dengan memberikan hanya ASI ekslusif untuk bayi hingga berusia enam bulan kemudian memberikan makanan pendamping ASI sampai dengan usia dua tahun. Jangan lupa juga untuk memantau pertumbuhan bayi dan balita dengan menimbang di posyandu, puskesmas, atau fasilitas kesehatan lainnya. Selain itu, berikan kekebalan tubuh pada balita melalui imunisasi yang lengkap agar tahan dari berbagai penyakit.

Pencegahan stunting berawal dari masing-masing keluarga. Tiap keluarga harus memastikan anak-anaknya tidak hanya kenyang namun juga berkecukupan gizi. Selain itu, memantau pertumbuhan balita menjadi sebuah keharusan untuk memastikan bahwa tidak terdapat masalah pada perkembangan sang buah hati. Dibutuhkan juga peran pemerintah dalam membentuk regulasi dan program kebijakan yang tepat sasaran. Jangan sampai generasi masa depan bangsa memiliki fisik dan kemampuan berpikir yang lemah. Maka dari itu, melawan stunting itu penting.

Banyak usaha dan metode dalam penanganan stunting ini yang ditujukan untuk masa depan generasi Indonesia yang lebih baik. Namun, segala bantuan akan menjadi kurang efektif apabila tidak ada kesadaran dari diri masyarakat khususnya penderita stunting

Pengetahuan akan bahaya stunting ini segera perlu untuk disebar luaskan kepada masyarakat. Jika masyarakat telah sadar dan paham akan bahaya stunting ini bukan tidak mungkin akan berdampak pada masa depan generasi Indonesia yang akan lebih dan berdaya saing tinggi.

Melalui upaya bersama dari seluruh sektor masyarakat dengan semangat membangun dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-59, kita jadikan stunting sebagai tantangan yang dapat diatasi. Mari wujudkan generasi bebas stunting sebagai cermin prestasi bangsa.

*) Administrator Kesehatan pada RSUD Pantura MA. Sentot Patrol Kabupaten Indramayu

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

10,540FansSuka
1,787PengikutMengikuti
1,871PelangganBerlangganan

Latest Articles