INDRAMAYU, indramayunews.id – Ribuan warga Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, tumpah ruah di jalan Pantura pada Jumat (7/11/2025). Di bawah langit mendung dan genangan air rob yang mulai naik ke bahu jalan, mereka berteriak, menuntut Bupati Indramayu Lucky Hakim menepati janji.
“Kami sudah bosan kebanjiran!” seru Supriyanto, koordinator aksi, dari atas mobil komando. Dalam orasinya, ia mengingatkan kembali janji Bupati Lucky yang pernah disampaikan kepada warga: membangun jalan desa agar tidak lagi tergenang dan menyampaikan keluhan masyarakat kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
“Waktu itu Bupati bilang, sepulang dari Magelang (retret kepala daerah), jalan akan segera diperbaiki. Tapi nyatanya sampai hari ini tidak ada perubahan. Bahkan saat bertemu Pak Gubernur, keluhan kami tidak disampaikan,” tegas Supriyanto dengan suara bergetar.
Memasuki musim penghujan, Eretan Wetan kembali tenggelam dalam penderitaan yang sama. Air laut pasang menembus tanggul dan meluap ke rumah-rumah. Tak ada yang luput — dari rumah nelayan hingga tempat ibadah.
“Hampir 90 persen permukiman terendam. Anak-anak tidak bisa sekolah, jalan berlumpur, masjid pun kebanjiran,” ucap Supriyanto pilu.
Hingga sore hari, ribuan warga masih bertahan di sepanjang jalur Pantura. Beberapa kali situasi memanas ketika massa berusaha menghentikan kendaraan yang melintas. Namun di tengah kerumunan itu, tampak sosok renta berdiri dengan mata basah — Caska (70), tokoh masyarakat setempat yang sejak muda sudah terbiasa melihat air rob menelan desanya.
Dengan suara bergetar, ia berkata, “Saya sudah tua, saya ingin lihat anak-anak bisa berangkat sekolah tanpa menggulung celana, tanpa takut seragamnya basah. Tolong, Pak Presiden Prabowo… kami tidak mau kebanjiran lagi.”
Air mata Caska jatuh, bercampur dengan air laut yang menggenang di kakinya. Ia bukan satu-satunya yang menangis hari itu. Banyak warga — dari anak-anak hingga orang tua — menatap kosong ke arah jalan, berharap pemimpin mereka datang menepati janji.
Aksi ini bukan sekadar protes, tapi jeritan panjang warga pesisir yang sudah puluhan tahun hidup berdampingan dengan rob dan janji-janji yang tak pernah ditepati.
“Kami tidak akan bubar sebelum Pak Lucky datang ke sini. Kami ingin beliau melihat sendiri bagaimana kami hidup,” ujar Supriyanto tegas.
Sore itu, di tengah genangan air asin yang makin meninggi, suara warga Eretan Wetan menggema: memohon keadilan, meminta perhatian, dan berharap—meski hanya sedikit—ada perubahan bagi tanah kelahiran mereka yang perlahan tenggelam. (TIM)


