INDRAMAYU, indramayunews.id – Upaya penyelamatan garis pantai dari ancaman abrasi terus dilakukan. PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) merealisasikan program penanaman 10.000 bibit mangrove di dua wilayah pesisir kritis Kabupaten Indramayu. Penanaman dilakukan di Desa Cemara Wetan, Kecamatan Cantigi, dan Desa Krangkeng, Kecamatan Krangkeng, dengan total luasan mencapai satu hektare.
Program ini ditandai dengan penandatanganan berita acara penyelesaian kegiatan serta penanaman simbolis di pesisir Desa Krangkeng pada Selasa (3/2). Inisiatif tersebut menjadi bagian dari komitmen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan sekaligus mendukung arah kebijakan tata ruang pemerintah daerah.
Head of Communication, Relations & CID PHE ONWJ, R. Ery Ridwan, menyampaikan bahwa kedua lokasi dipilih berdasarkan kajian risiko lingkungan yang menunjukkan tingkat kerentanan abrasi tinggi. Menurutnya, penanaman mangrove merupakan bentuk nyata komitmen perusahaan dalam menerapkan prinsip environmental, social, and governance (ESG).
“Penanaman sepuluh ribu bibit mangrove ini adalah langkah konkret pemulihan ekosistem pesisir. Kami menyadari operasi hulu migas harus berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, mangrove memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai benteng alami penahan abrasi, tetapi juga sebagai habitat berbagai biota laut. Keberadaan mangrove diyakini mampu mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir, khususnya nelayan.
Selain itu, program rehabilitasi mangrove ini juga ditargetkan berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama terkait penanganan perubahan iklim dan perlindungan ekosistem laut. PHE ONWJ, lanjut Ery, berkomitmen memastikan investasi sosial yang dilakukan memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat.
Dari sisi pemerintah daerah, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu menilai langkah tersebut sangat penting mengingat kerusakan pesisir yang semakin meluas akibat kenaikan permukaan air laut. Kolaborasi antara sektor industri dan pemerintah diharapkan mampu mempercepat target rehabilitasi mangrove daerah.
Hal senada disampaikan Bapperida Indramayu yang menilai program ini sejalan dengan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), khususnya penguatan kawasan sabuk hijau pesisir. Dukungan juga datang dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat yang menilai rehabilitasi mangrove berpotensi dikembangkan menjadi sumber ekonomi baru berbasis hasil hutan bukan kayu di masa depan.
Sementara itu, pemerintah desa dan masyarakat setempat menyambut baik program tersebut. Warga berharap penanaman mangrove tidak berhenti pada tahap awal, tetapi berlanjut dengan pendampingan agar kelestarian kawasan pesisir dapat terjaga.
Dengan terealisasinya penanaman ini, diharapkan kawasan pesisir Indramayu semakin terlindungi dari ancaman abrasi sekaligus membuka peluang keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat pesisir. (TIM)


