SINDANG, indramayunews.id – Situs Makam Raden Benggala dan Raden Benggali di Desa/Kecamatan Sindang Kabupaten Indramayu tak terurus. Situs tinggi nilai sejarah ini bahkan tampak kumuh, dan hanya menjadi tempat jemuran bagi masyarakat sekitar.
Salah seorang warga Desa/Kecamatan Sindang, sebut saja Rizky – bukan nama sebenarnya, mengeluhkan kondisi ini. Ia menyayangkan kondisi situs sarat nilai sejarah Indramayu yang kini sangat memprihatinkan.
“Lihat saja. Warga sekitar dengan seenaknya menjemur pakaian di pagar situs. Apa itu tidak bikin kumuh?” tuturnya kepada indramayunews.id, Selasa (24/5).
Selain jemuran yang menghiasi pagar situs, tumpukan sampah juga menggunung di sejumlah titik. Hal ini bisa menghambat aliran air, pada selokan yang berada di sekitar Situs Makam Benggala-Benggali.
“Selain kesadaran masyarakat yang kurang, pihak terkait juga terkesan tutup mata dan melakukan pembiaran. Harusnya pemerintah turun tangan untuk menyelamatkan situs warisan leluhur Indramayu ini,” jelasnya.
Tak hanya menyelamatkan secara fisik kondisi Situs Makam Benggala-Benggali, pemerintah juga dituntut untuk mengedukasi dan mengubah pola pikir masyarakat. Sehingga mereka secara sadar dan sukarela, bersedia untuk turut serta menjaga dan melestarikan salah satu situs leluhur Bumi Wiralodra.
“Dengan kewenangan yang dimiliki, pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Indramayu, harus segera turun tangan. Kalau tidak, saya khawatir situs makam yang tak ternilai ini bisa hilang, tanpa diketahui oleh generasi penerus,” pintanya.
Untuk diketahui, Raden Benggala (Wiralodra IV) dan Raden Benggali (Wiralodra V) merupakan saudara kembar, putera dari Raden Sawerdi (Wiralodra III). Keduanya adalah cucu dari Raden Wirapati (Wiralodra II), yang merupakan putera dari pendiri dan pemimpin Indramayu yang pertama, Raden Aria Wiralodra.(IN-15)


