30.4 C
Indramayu
Minggu, 19 April 2026

Tonjolkan Pemberdayaan Mantan Buruh Migran, Tinumpuk Ikut Lomba Desa Tingkat Kabupaten

JUNTINYUAT, indramayunews.id – Desa Tinumpuk Kecamatan Juntinyuat Kabupaten Indramayu, merupakan salah satu desa yang diikutsertakan dalam Lomba Desa tingkat Kabupaten Indramayu. Dipilihnya desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani itu cukup beralasan. Karena desa yang dipimpin oleh Kuwu Eka Munandar itu mengalami kemajuan yang cukup pesat apabila dibandingkan dengan desa lainnya di Bumi Woralodra.
 
 
Desa yang memiliki 1.524 kepala keluarga (KK) memiliki potensi desa guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Terutama dalam peningkatan daya beli masyarakat cukup tinggi. Hal ini yang mendorong desa tersebut masuk nominasi untuk ikut dalam lomba desa.
 
“Masuknya desa yang dipimpinnya dalam ajang lomba desa adalah sebuah penghargaan yang luar biasa. Sebab, tidak semua desa dilibatkan dalam ajang bergengsi yang satu ini,”jelas Kuwu Eka kepada indramayunews.id.
 
 
Eka menjelaskan, selama ini Desa Tinumpuk selalu dijadikan titik pantau dalam penilaian Lomba Adipura tingkat Kabuapten Indramayu. Hal ini yang mengantarkan Kabupaten Indramayu selalu meraih penghargaan Adipura tingkat nasional. Sehingga sangat lah wajar jika desa yang mayoritas penduduknya sebagai petani itu ikut dalam kegiatan lomba desa tersebut.
 
Desa yang dipimpin oleh Eka Munandar, selain menjadi titik pantau penilaian Lomba Adipura, karena di desa tersebut memang ada program yang namanya IMasaro merupakan Singkatan Dari Kepanjanagan Indramayu – Manajemen Sampah Zero.
 
Semula berjalan diawali dari Pemerhati Mantan Buruh Migran di Awal tahun 2011, semula kegiatan ini berawal dari Program Pemerintah yang menginginkan Mantan Buruh Migran serta Tenaga Buruh Migran (TKI/TKW) itu mampu memberdayakan keluarganya. Sehingga tidak harus selamanya menjadi buru migran.
 
 
“Desa yang dipimpinnya, ada kelompok pemerhati TKI. Sampai sekarang ada ratusan anggota yang tergabung dalam Ikatan Buru Migran Tinumpuk (IBU TIN),”jelasnya.
 
Menurutnya IBU TIN itu menjadi solusi bagi para mantan buru migran atau PMI. Mereka mampu melakukan berbagai inovasi dalam menumbuhkembangkan ekonomi keluarga. Salah satu kegiatan yang sekaran berjalan adalah produksi teh jinten yang terbuat dari daun jinten pilihan.
 
Potensi desa ini lah menjadi penghasilan keluarga bagi masyarakat setempat. Di samping itu ada bank sampah di mana para purna migran bisa menjual sampah melalui IBU TIN. Melalui bank sampah, mereka bisa menjual sampah melalui IBU TIN dan setiap tahun sekali para anggota yang menjual sampah itu dapat Tunjangan Hari Raya (THR) berupa sembako.
 
”Bang sampah ini benar benar berjalan di tengah masyarakat. Hal ini tak terlepas dengan para aktifis buru migran yang komandoi oleh ibu Mutia dan Madlani.
 
“Pemberdayaan mantan buru migran ini sejalan dengan Program Bupati Hj Nina Agustina. Yakni, Program Perempuan Berdikari (Pe-Ri) yang merupakan program unggulan Bupati,”imbuh purnawirawan TNI ini.
 
Ditambahkannya, dengan pemerdayaan ekonomi masyarakat di kalangan mantan buruh migran itu benar_benar dirasakan manfaatnya. Sehingga, lanjut dia, bisa mengurangi masyarakat untuk bisa berusaha mandiri. Tanpa harus kembali menjadi TKW luar negeri lagi.
 
“Kami berharap pemberdayaan masyarakat. Terutama dari kalangan PMI ini bisa memberikan nilai lebih pada tim penilai Lomba Desa Tingkat Kabupaten Indramayu,”harapnya.
 
Ketua Kelompok CBO “Community Based Organization” atau Kelompok berbasis komunitas, Mutiah menjelaskan, dalam kegiatannya IBU-TIN di beri support
pendanaan oleh organisasi TIFA yang digandeng oleh Bank Dunia dengan bantuan pendanaan ini organisasi dapat berjalan dan berkembang dalam bidang usahanya dan keuntungannya dapat menjalankan tugas
pokoknya yaitu memberikan Edukasi terhadap Calon TKI dan keluarganya terhadap informasi regulasi dan prosedur Legal Formalnya sehingga mereka paham dan tidak jadi korban penipuan oleh orang yang tidak bertanggungjawab.
 
“Alhamdulillah kelompok yang dipimpinnya, bisa memberikan manfaat. Terutama bagi PMI yang ada di desanya,”jelasnya.
 
Sehingga di tahun 2014 CBO IBU-TIN meluncurkan program baru yaitu Unit Usaha Bank sampah, Dengan Nama Bank Sampah “BERSERI” dengan asumsi dengan adanya bank sampah dapat dikolaborasi dengan usaha simpan pinjam yaitu keuangan Bank sampah yang konsepannya menabung dikelola tabungan nya di Usaha simpan pinjam dan calon nasabah simpan pinjam diwajibkan menjadi nasabah bank sampah dahulu dengan batas tabungan minimal 50 kg kemudian baru dapat mengakses simpan pinjam.
 
Dengan adanya kolaborasi ini masyarakat yang semula enggan menabung ahirnya sedikit demi sedikit mau menabung sehingga dapat menambah permodalan diusaha simpan pinjam dan dapat menambah nasabah Bank sampah, dan sehingga dalam kegiatan pengumpulan warga masyarakat dalam edukasi semakin banyak dan semakin ramai.
 
“Itu lah program kami. Mudah-mudahan bisa dijadikan dasar penilaian Lomba Desa Tingkat Kabupaten Indramayu,” Pungkasnya.(IN-014)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

10,540FansSuka
1,787PengikutMengikuti
1,871PelangganBerlangganan

Latest Articles