31.2 C
Indramayu
Kamis, 4 Juni 2026

Indramayu Layak Jadi Kota Toleransi, Kerukunan Terlihat dalam Layanan Mudik di Rumah Ibadah

INDRAMAYU, indramayunews.id – Semangat kebersamaan dan kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Indramayu kembali terlihat dalam layanan mudik Lebaran 1447 H/2026 M di jalur Pantura. Tidak hanya masjid, sebuah vihara di wilayah tersebut turut membuka layanan bagi para pemudik yang membutuhkan tempat singgah selama perjalanan menuju kampung halaman.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, meninjau langsung kesiapan layanan tersebut dalam rangkaian kunjungan di jalur Pantura, Minggu (15/3/2026). Peninjauan dilakukan di sejumlah masjid, termasuk di Vihara Budhi Asih Jatibarang.

Menurut Abu Rokhmad, keterlibatan vihara dalam memberikan layanan bagi para pemudik menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dapat diwujudkan melalui aksi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Sekarang kita punya kegembiraan baru menjelang Idulfitri, bukan hanya bersiap untuk mudik, tetapi juga menyambut para pemudik melalui program rumah ibadah ramah pemudik,” ujarnya saat meninjau layanan di Vihara Budhi Asih Jatibarang.

Kemenag Indramayu Sediakan Tempat Ibadah Sementara bagi Jemaat HKBP

Ia menambahkan, rumah ibadah memiliki potensi besar sebagai ruang singgah yang aman dan nyaman bagi para musafir. Selain menyediakan fasilitas istirahat, tempat ibadah juga memberi kesempatan bagi pemudik untuk tetap menjalankan ibadah di tengah perjalanan panjang.

“Kehadiran berbagai rumah ibadah yang siap melayani pemudik menunjukkan bahwa kita bergerak secara inklusif, terbuka, dan berkolaborasi dengan semua pihak,” kata Abu.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Indramayu, Aghuts Muhaimin, menilai Indramayu layak disebut sebagai kota toleransi. Hal tersebut didukung oleh regulasi daerah yang tidak diskriminatif serta kebijakan pemerintah yang menjamin kebebasan beragama dan melindungi kelompok minoritas.

Ia menjelaskan, pemerintah daerah bersama Kementerian Agama aktif memfasilitasi dialog antaragama dan antarbudaya serta memberikan perlindungan yang setara bagi seluruh umat beragama. Dari sisi sosial, masyarakat Indramayu juga terbiasa hidup berdampingan dan saling membantu tanpa memandang perbedaan keyakinan.

“Kantor Kemenag Indramayu bahkan pernah memfasilitasi umat minoritas untuk beribadah sebelum mereka memiliki gereja sendiri. Ini menjadi bukti bahwa kita berusaha melayani semua umat secara adil,” ujar Aghuts.

Menurutnya, keberadaan forum lintas agama seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) serta program kampung moderasi beragama turut memperkuat infrastruktur sosial dalam menjaga harmoni di tengah masyarakat.

Aghuts menegaskan komitmen Kementerian Agama Kabupaten Indramayu sebagai rumah bersama bagi seluruh umat beragama.

“Kementerian Agama Kabupaten Indramayu menjadi rumah bersama umat beragama. Kami berkomitmen memberikan pelayanan terbaik agar tercipta kerukunan umat beragama. Mari kita buktikan Indramayu sebagai daerah yang rukun, damai, dan kondusif,” katanya.

Dalam rangka mendukung arus mudik di jalur Pantura, pihaknya juga telah menyiapkan berbagai rumah ibadah sebagai tempat singgah bagi para pemudik. Wilayah Indramayu sendiri merupakan salah satu titik penting arus mudik yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Tengah.

“Kami telah menyiapkan 23 masjid, 5 madrasah, dan 1 vihara untuk memberikan layanan bagi para pemudik yang melintas di wilayah Indramayu,” jelasnya.

Rumah ibadah tersebut menyediakan fasilitas sederhana namun bermanfaat bagi para pemudik, seperti tempat beristirahat, air minum, hingga ruang ibadah yang nyaman. Keterlibatan rumah ibadah lintas agama, termasuk Vihara Budhi Asih Jatibarang, menjadi simbol kuat kerukunan yang hidup di tengah masyarakat Indramayu.

Ketua Vihara Budhi Asih Jatibarang, Fusen Chandra, mengatakan bahwa toleransi beragama di Indramayu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Ia mencontohkan kehidupan masyarakat di Blok Rehoboth, Desa Jayamulya, Kecamatan Kroya, yang dihuni warga dengan latar belakang agama dan kepercayaan berbeda. Di wilayah tersebut, gereja dan masjid berdiri berdampingan tanpa menimbulkan konflik.

“Keanekaragaman masyarakat tidak menimbulkan perpecahan, justru saling menguatkan satu sama lain. Selama ini di Indramayu tidak ada gejolak sosial yang dikaitkan dengan perbedaan keyakinan,” ujarnya.

Fusen juga menuturkan bahwa anak-anak yang mengikuti kegiatan barongsai di Vihara Budhi Asih Jatibarang bahkan sebagian besar beragama Islam. Selain itu, penjaga vihara tersebut juga berasal dari kalangan umat Kristen.

Apresiasi juga datang dari pimpinan jemaat HKBP. Agus Victor Sidauruk menyampaikan penghargaan kepada Kementerian Agama Kabupaten Indramayu atas sikap inklusif dalam mengayomi seluruh umat beragama.

“Kementerian Agama Kabupaten Indramayu benar-benar mengayomi semuanya. Ini menjadi pengalaman pertama bagi kami di Jawa Barat ketika kerinduan komunitas Kristen seperti HKBP untuk mendapatkan ruang kegiatan dan penguatan moderasi beragama difasilitasi secara terbuka,” ungkapnya.

Sementara itu, perwakilan umat Kristen Indramayu, Metty Yohana Suhalessy, turut menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idulfitri kepada umat Muslim.

“Selamat Hari Raya Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua selalu diberi kebahagiaan,” ujarnya.

Ucapan serupa juga disampaikan oleh Cornelius Cahya Sandi dari keluarga besar Gereja Katolik Santo Mikael Indramayu yang turut menyampaikan selamat Idulfitri dan harapan agar kebersamaan antarumat beragama terus terjaga.

Berbagai contoh kehidupan yang harmonis tersebut semakin mempertegas bahwa Indramayu bukan hanya sekadar daerah lintasan mudik di jalur Pantura, tetapi juga menjadi contoh nyata daerah yang menjunjung tinggi nilai toleransi, kebersamaan, dan kerukunan antarumat beragama. (DRA)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

10,540FansSuka
1,787PengikutMengikuti
1,871PelangganBerlangganan

Latest Articles