Foto istimewa : Analis militer dan pertahanan Dr Connie Rahakundini Bakrie dalam sambutannya pada peringatan 2 Muharram di Ponpes Al Zaytun
GANTAR, indramayunews.id – Isu bahwa Pondok Pesantren Ma’had Al Zaytun mempunyai bungker sebagai tempat penyimpanan senjata itu terbantahkan. Isu tersebut sengaja digulirkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab dan sengaja sedang mencari panggung.
Mereka (penyebar opini, red) sengaja menyebarkan opini yang sengaja ingin mempengaruhi masyarakat. Agar semua orang membenci ponpes terbesar se_Asia Tenggara.
Hal ini dibuktikan dengan kedatangan seorang akademisi, dan juga analis militer dan pertahanan. Ia adalah Dr Connie Rahakundini Bakrie yang datang langsung ke Al Zaytun. Kondisi ini yang mengundang perhatian serius Connie untuk melihat secara langsung ke ponpes, kemarin.
Bahkan saking penasarannya pengamat militer itu mengecek bungker yang selama ini disukan menyimpan senjata. Lokasinya persis di bawah Masjid Rahmatan Lil Alamin.
Dia membuktikan sendiri mengenai beberapa isu yang belakangan muncul di media sosial. Salah satunya soal bungker yang disebut berisi senjata di bawah Masjid Rahmatan Lil Alamin.
Menurutnya, penting untuk meneliti sesuati dengan melihat langsung. Bukan dengan bermain opini.
Sehingga mendapatkan bukti nyata dan bisa berpendapat berdasarkan fakta. Bukan sekadar cari panggung.
Connie pun menunjukkan bunker Al Zaytun yang disebut berisi senjata. Nyatanya, tempat yang dimaksud hanya gudang biasa.
Isinya, tumpukan kayu jati yang dipotong sejak tahun 1957 dan 1965. Kemudian keramik dan peralatan pertukangan.
“Cara saya dan tim dalam meneliti suatu hal, bukan bermain opini, tetapi sedapat mungkin membentuk persepsi berdasarkan fakta dan bukti nyata,” kata Connie, menyampaikan penjelasannya.
Dikatakan Connie, bila dirinya tidak melihat langsung kondisi di Al Zaytun, tentu tidak bisa membuktikan sendiri kondisi sesungguhnya.
Apalagi, dirinya datang bukan untuk mencari panggung. Sebab, akademisi pada hakikatnya adalah melakukan fact finding.
“Jika saya tidak datang memenuhi undangan untuk menyampaikan orasi tentang Kebangkitan Ekonomi Biru Indonesia Raya dari Pimpinan Ponpes Al Zaytun, bagaimana bisa kami melihat, menyaksikan dan berinteraksi? Bagaimana kami bisa bilang hitam adalah hitam putih adalah putih?” bebernya.
Dia pun menyindir mereka yang menyarakan isu tentang bunker di bawah tanah dari Mahad Al Zaytun. Lewat pembuktian itu, terlihat kelas yang berbeda antara mereka yang hanya beropini dengan yang melihat untuk memverifikasi.
“Contoh adalah issue tentang bunker dibawah Masjid Al Zaytun, saya lihat sendiri apa isinya dan seluas apa total area ruang dasar Masjid Al Zaytun ini. Itulah bedanya kelas ‘tokoh’ cari panggung ikut2an bersuara ngawur sambil tidak memegang bukti, vis a vis tim akademisi berlatar belakang fact finding. (tim)


